Selasa, 27 Mei 2014

Kurawa Lahir

KURAWA LAIR









Destarastra adalah seorang kakak dari Pandu Dewanata. Desasatra memiliki kekurangan, yakni tidak dapat melihat. Namun, itu sama sekali tidak mengurangi rasa hormat Pandu Dewanata kepada kakaknya tersebut. Karena saking hormatnya ia kepada kakaknya, Prabu Dewanata membawa 3 putri yang nantinya salah satu dari mereka akan dipersunting Destarastra.
3 putri tersebut yakni
  1. Dewi Kunthi,
  2. Dewi Madrim,
  3. Dewi Gendari.
Akhirnya, Destarastra memilih Dewi Gendari untuk dijadikan istrinya. Dewi Gendari merasa kecewa. Seharusnya putri cantik sepertinya menjadi istri Pandu Dewanata, bukan Destarastra yang buta itu. Dalam hati ia bersumpah bahwa anak keturunannya dengan Destarastra tidak akan pernah akur dengan anak keturunan Pandu Dewanata.

Tak lama, Dewi Gendari hamil. Namun, Destarastra merasa sangat bersedih hati, Kesedihan mereka disebabkan kandungan Dewi Gendari yang telah mencapai usia tiga tahun lamanya. Walau telah mencapai 1000 hari lebih, melampaui batas kenormalan usia hamil, akan tetapi belum juga ada tanda-tanda akan melahirkan si jabang bayi.

Selama mengandung, angan-angan Dewi Gendari tak pernah lepas dari rasa dendam dan sakit hati kepada Pandu Dewanata. Ambisi untuk menumpas keturunan sang pandu sebagai pelampiasan dendam sakit hatinya selalu tak pernah lupa diucapkan dalam permohonan doa Dewi Gendari kepada dewata. Akan tetapi saat itu belum juga ada dampak terkabulnya doa permintaan isteri adipati negara Ngastinapura ini. Pagi, siang, sore hingga malam hari, hatinya senantiasa dirundung perasaan resah gelisah, gundah gulana. dan bahkan hampir putus asa, Mengingat antara apa yang menjadi cita-cita dendam hatinya, maupun ingat akan kandungannya yang telah melampaui kenormalan itu, sama sekali belum membawa hasil seperti apa yang diharapkannya.
Pendek kata, selama masa kehamilan, Dewi Gendari tak pernah memiliki ketentraman di hati. Apalagi setelah mengetahui Dewi Kunthi, permaisuri Pandu telah melahirkan puteranya yang pertama, yang diberi nama Raden Puntadewa atau juga disebut Raden Wijakangka. bahkan Dewi Kunthi kini telah dan hampir melahirkan puteranya yang kedua. Kecemasan serta seribu satu macam perasaan gelisah dan tidak enak terkandung dalam hati Dewi Gendari ini semakin menjadi-jadi.

Ketiadamenentuan perasaan hati Dewi Gendari yang sedang berbadan dua itu, mengakibatkan tubuhnya terasa gerah dan tidak betah tinggal dalam bangsal Kaputren. Dewi Gendari kemudian melangkahkan kakinya, dengan langkah-langkah gontai menuruni tangga pualam di bangsalnya menulusuri jalan setapak di antara hijaunya rerumputan, menuju ke taman sari kerajaan Ngastinapura yang luas dan asri, diikuti oleh empat orang emban sebagai abdi pengiringnya. Kala itu surya telah condong ke barat, saat Dewi Gendari beserta empat orang abdinya menulusuri jalan setapak yang terbuat dari pualam, diantara semerbak harum aneka bunga, serta rimbunnya pohon buah-buahan yang menghiasi taman kerajaan, gerbang-gerbang sebagai batas bagian-bagian taman yang luas itu, pandangan matanya yang sayu lurus memandang ke depan seakan-akan tak peduli dengan segala keindahan taman di sekelilingnya. Tak lama kemudian Dewi Gendari telah melalui gerbang taman yang ke tujuh dan merupakan bagian taman yang terakhir.

Dalam bagian taman ini berisi aneka macam binatang buas maupun jinak serta beragam unggas sebaga hiasannya, tak ubahnya seperti isi kebun binatang layaknya namun tampat terawat bersih dan rapi. Di tengah petamanan margasatwa ini terdapat sebuah kolam besar yang terbuat dari batu pualam dengan dihiasi kelompok bunga teratai nan mekar dengan indahnya. ikan-ikan yang berwarna-warni berlari berpasangan berkejar-kejaran d bawah warna biru jernihnya air. tanpa sepengetahuan Dewi Gendari bahwa kedatangannya di taman satwa itu, telah membuat seluruh binatang buas yang ada di taman menjadi beringas, sementara binatang yang jinak serta unggas seperti gelisah dan ketakutan,semua ini merupakan firasat buruk.
Hembusan angin keras membuyarkan lamunan Dewi Gendari, mengetahui cuaca buru, Dewi Gendari mengajak para emban kembali ke kaputren. Langkah Dewi Gendari semakin dipercepat karena renai gerimis telah mulai turun. Tiba tiba saja Dewi Gendari yang sedang mengandung ini tersentak kaget saat mendengar suara harimau mengaum begitu keras. Karena rasa kaget yang teramat sangat tubuh Dewi Gendari gemetar, wajah pucat, tak terasa Dewi Gendari telah melahirkan di tempat di mana ia berdiri, yaitu bebrapa jengkal sebelum mencapai gerbang kaputren tempat tinggalnya. Dewi Gendari bukan melahirkan bayi sehat dan mungil, melainkan adalah segumpal daging yang bercampur darah mengental, berwarna mrah kehitam-hitaman, daging yang baru lahir dari rahim Dewi Gendari itu bergerak-gerak serta berdenyut-denyut seakan-akan bernyawa.

Setelah melihat dan mengetahui hal ini, bukan main marah Dewi Gendari, karena emosinya gumpalan daging itu diinjak injah hingga terpecah belah, lalu ditendang-tendang dengan kakinya ke arah yagn tak menentu, pecahan serta serpihan daging yang dilahirkan Dewi Gendari tercerai berai berserakan di atas rerumputan taman. Dewi Gendari merasa emosi, geram dan marah. Setelah itu ia pun menjerit dan mengangis histeris, lalu pingsan. Setelah itu ia lalu dibawa masuk ke Kaputren tempat kediamannya. Anehnya, setiap serpihan daging yang berserakan itu besar atau kecil tetap berdenyut dan bergerak-gerak.

Atas nasehat Begawan Abiyasa yang telah datang secara gaib dari pertapaannya, meminta agar Destarasta memerintahkan para abddinya untuk menutupi setiap serpihan daging itu dengan daun jati.

Dengan was-was serta perasaan takut yang tertahan, maka para emban serta beberapa orang prajurit penjaga taman melaksanakan tugas yang diperintahkan Destarasta, menutupi serpihan daging itu dengan daun jati, jumlahnya mencapai 100 keping. Bersamaan dengan kejadian itu, suasana taman di Ngastinapura berubah menjadi sangat menyeramkan. Binatang buas mengeluarkan suaranya, disusul dengan lolongan anjing hutan yang berkepanjangan bersahutan, burung hantu, kelelawar, burung gagak serta binatang malam lainnya. Binatang-binatang yang lelolong tak kunjung berhenti, suasana seram dan menakutkan meliputi Ngastinapura. Banyak para emban dan prajurit penjaga malam ketakutan, wajahnya pucat, badannya menggigil, merinding bulu romanya.

Dewi Gendari yang telah siuman dari pingsannya turun dari tempat peraduannya menuju tempat pemujaan, ia memohon kepada dewa, agar cita-citanya untuk berputera banyak, bisa terkabul. tiba-tiba saja Batari Durga muncul secara gaib dan memberitahukan, apabila lewat tengah malam mendengar tangisan bayi di taman, Dewi Gendari agar cepat-cepat menghampiri bayi tsb, karena itu adalah puteranya. setelah memberikan pesan Batari Durgapun menghilang dari hadapan Dewi Gendari secara gaib, kembali ke kahyangan di wukir pidikan.

Dan benar saja, saat terdengar tangisan, Dewi Gendari segera menuju ke taman. Dan betapa terkejutnya ia saat ia melihat ada 100 bayi di sana.
Seluruh isi kerajaan bahagia mendengar berita tersebut.


Para Korawa (putera Dretarastra) yang utama berjumlah seratus, namun mereka masih mempunyai saudara dan saudari pula. Kemudian dari Dewi Gandari, lahir seorang putra lagi bernama Duskampana dan seorang putri bernama Dursala (atau Duççala atau Dussala).
Dretarastra mempunyai anak dengan seorang wanita dari kasta waisya, yang dinamakan Yuyutsu.Nama Yuyutsu dalam bahasa Sanskerta artinya ialah “yang memiliki kemauan untuk berperang/bertempur”.
Berbeda dengan para Korawa pada umumnya, ia tidak berbuat jahat pada para Pandawa, sepupunya. Saat perseteruan antara Pandawa dan Korawa sudah mencapai klimaks, dikeluarkanlah pengumuman untuk berperang. Yuyutsu bergabung di bawah panji-panji pasukan Korawa. Mereka berperang di Kurukshetra, India Utara.

Sesaat sebelum perang di Kurukshetra dimulai, Yudistira — yang sulung di antara Pandawa — maju ke hadapan pasukan Korawa untuk memastikan apakah ada yang berubah pikiran dan mau berpihak kepadanya. Hanya Yuyutsu yang menanggapinya, sehingga ia keluar dari barisan pasukan Korawa dan bergabung dengan pasukan Pandawa. Hal itu membuatnya menjadi penerus garis keturunan Dretarastra, sementara saudaranya yang lain gugur semua di medan perang Kurukshetra.

Karna Tandhing

Tak diceritakan bagaimana suasana ketika Adipati Karna bertemu dengan istri tercintanya, Surtikanti. Yang terjadi kemudian adalah waktu pagi yang terik, dimana pertempuran sengit berkecamuk kembali di padang Kurukasetra yang sudah berhari hari menjadi panggung ajang drama pertempuran yang mengerikan. Sisa sisa tenaga prajurit yang kini mulai jenuh dan lelah, hanya punya pilihan, segera perang selesai. Entah dirinya yang menjadi korban atau ia membunuh lawan lawannya dengan cepat.

Hawa panas menjelang penghujan menyengat menguatkan bau anyir darah dan busuk bangkai manusia dan hewan tunggangan para adipati serta segenap pembesar perang yang tak lagi sempat dirawat oleh sesama prajurit. Berserakan senjata yang bergeletakan mencuat diantara reruntuhan kereta perang, sungguh membuat meremang bulu kuduk orang orang yang bermental lemah. Belum lagi erangan para prajurit terluka menahan rasa sakit yang tak terkira, tetapi tidak kunjung ajal menjemput. Suara rintihan itu bagai nyanyian peri prayangan. Sementara burung gagak pemakan bangkai berputar kekitar diangkasa yang biru dengan gumpalan awan disana sini, menanti kapan waktunya untuk kembali berpesta pora.

Di salah satu sisi medan pertempuran, terdengar pembicaraan dua orang prajurit yang sama sama terluka, entah kepada sesama teman atau lawan. Yang mengalami luka serius menyandar pada pokok pohon kering, sementara lawan bicaranya tadi tertelungkup dengan sesekali terbatuk memuntahkan darah segar dari mulutnya.
“Sesungguhnya apakah yang kita dapat dari peperangan yang kita jalani, kisanak?

“Inilah yang kita dapat!  Kebinasaan! Hukum alam telah menuliskan, keseimbangan alam telah mengharuskan manusia melakukan kekerasan, saling baku bunuh untuk kembali ke keseimbangan baru, baik itu melewati perang seperti ini, bencana alam, atau manusia dengan sadar mengerem lajunya jumlah turun. Kita ini sedang ada didalam bagian dari putaran proses itu, kisanak”.

Keduanya berbincang diantara desing anak panah dan denting senjata serta gelegarnya meriam dengan sesekali berhenti menahan rasa sakit, suara pembicaraan keduanya kadang tertelan oleh kemeretak roda kereta dan derap ladam kuda yang melintas disekitar mereka. Sementara  kepulan debu dan asap sendawa mengepul menyesakkan nafas.

***

Diceriterakan, adalah Raden Sanjaya. Yang merasa tertantang setelah bertemu dengan Wara Srikandhi dan menyatakan hendak memberi sesumbang jiwa raga terhadap para Pandawa. Akan tetapi niat baik Randen Sanjaya telah dianggap sebagai manusia yang bersifat oportunis.

“Sanjaya, kalau kamu hendak membela para Pandawa, kenapa tidak dari semula, kenapa baru sekarang ketika Kurawa sudah lemah, ketika kamu sudah merasa, tak akan para Kurawa menang atas Pandawa. Apakah itu jiwa dan watak seorang  prajurit?. Apakah itu bukan manusia yang bertujuan untuk mencari kemuliaan dan kesenangan belaka?. Apakah sekiranya bila kamu tidak bergabung dengan para Pandawa, Pandawa tidak akan menang?  Malah aku kira, permintaan bergabungnya kamu dengan para Pandawa adalah sebagai mata mata. Kenapa aku sebut begitu, karana sejak lahir, kamu adalah warga Panggombakan yang ada dalam wilayah Astina !”.

Tersentuh rasa panas hati Sanjaya yang dituding mencari kemuliaan atas kemenangan Pandawa, maka ia bersumpah akan menandingi kesaktian Adipati Karna. Berangkat ke medan perang Sanjaya dengan hati terluka oleh tuduhan yang tidak beralasan dari Wara Srikandi. Andai saja Sumbadra tidak terlambat dalam mencegah keberangkatan Sajaya yang sudah melangkah ke medan Kuru, maka mungkin kejadiannya akan berbeda. Memang Wara Sumbadra tahu, betapa ayah dari Senjaya, Raden Yamawidura, adalah seorang yang berjasa sangat besar pada Pandawa. Ketika terjadi peristiwa bale Sigala-gala, orang tua Sanjaya telah membaui hal yang mencurigakan ketika pesta itu diadakan oleh usul Sengkuni. Ketika itu Raden Yamawidura menyelamatkan para Pandawa dari api yang membakar pesanggrahan mereka, ketika mereka terbius tidur oleh para Kurawa. Kemudian mereka membakar habis seluruh pesanggrahan.

Yamawidura yang menjelma menjadi garangan putih, telah membuat lubang bawah tanah menembus sapta pratala dan menyelamatkan kemenakannya. Kemenakan yang selalu terlihat benar dimatanya, tetapi karena sesuatu hal ia harus sembunyi sembunyi menyelamatkannya. Hal itulah yang dikatakan Wara Sumbadra kepada Wara Srikandi, yang kemudian telah membuat sesal dihati Srikandi.

Namun rasa bersalah Wara Srikandi ketika mendengar keterangan dari Sumbadra, menjadi tidak berarti, ketika putra Yamawidura itu telah melangkah ke palagan.

Maka didalam peperangan Kurusetra itu, Sanjaya mencari sosok Adipati Karna. Ia hendak memperlihatkan kesungguhannya dalam menyatakan diri ada di pihak Pandawa. Ia berteriak lantang menantang Adipati Karna.

Ketika putra Awangga kedua yaitu Raden Wersasena mengetahui ayahnya ditantang oleh Raden Sanjaya, kemarahan anak muda itu terbangkit. Dihampirinya Sanjaya, ia tidak rela bila ayahnya ditantang oleh sesama anak muda lain.

“Heh Sanjaya! Sejak kapan kamu telah memberontak terhadap negara yang telah menghidupimu, yang telah memberi kumuliaan terhadap orang tuamu dan keluargamu?”.

“Sejak dulu memang aku lebih bersimpati terhadap putra uwa’ Pandu Dewanata. Sekaranglah aku hendak memperlihatkan betapa aku telah merasa salah, membiarkan saudara tuaku para Padawa ada dalam kesengsaraan yang berlarut larut. Sekarang katakan, dimana senapati Kurawa berada?”

“Tak usah kamu mencari dimana senapati itu, hadapi dulu putra Awangga sebagai putra senapati. Langkahi dulu mayatku sebelum kamu bisa berhadapan dengan ayahku!”.

“Baik, akan aku turuti kata katamu. Waspadalah!”

Pertempuran dua anak muda itu berlangsung sengit. Kelihatan mereka mencoba mengerahkan segenap kesaktiannya, untuk menentukan siapa salah satunya yang harus tewas ditangan masing masing.

Semakin lama semakin tegas terlihat, bahwa Sanjaya lebih unggul daripada Warsasena. Ketika sampai di puncak kemampuannya, Sanjaya menyudahi perlawanan Warsasena dengan menewaskannya. Kemarahan Adipati Karna tidak terbendung ketika mendengar anak lelakinya yang tinggal satu telah tewas.

Sorak sorai bala tentara telah mengatakan akhir dari pertempuran kedua anak muda itu. Segera Adipati Karna mendekati Sanjaya untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Pertempuran kembali terjadi. Tetapi kesaktian Sanjaya ternyata tidaklah imbang dihadapan Adipati Karna. Sekarang berganti, terdesak Sanjaya, dan tak lama kemudian keris Kyai Jalak mengakhiri hidup Raden Sanjaya. Ia gugur dalam usahanya membuktikan darma baktinya terhadap saudara saudara sepupunya para Pandawa.

Diceriterakan, telah tiba saat kedua satria pilihan dari kedua pihak akan bertemu dalam pertempuran atas nama darma satria. Ketika telah terdengar aba-aba bahwa Senapati dari Pihak Wirata telah siap siaga, maka segera Adipati Karna meloncat menaiki kereta perangnya. Tetapi oleh suasana hati Prabu Salya yang masih tetap panas, ada saja masalah kecil yang menjadikannya tidak berkenan. Ketika melihat menantunya telah menaiki kereta, dan ia masih ada dibawah, kemarahannya kembali meledak. “Apakah kamu bukan manusia yang mengerti tata bagaimana menghormati orang tua, keparat!  Orang tua masih dibawah, kamu sudah duduk nangkring diatas kereta!”.

Namun Adipati Karna mencoba membela diri, serba salah telah mendera hatinya dari waktu ke waktu  “Mohon seribu maaf  rama Prabu, maksud hamba dari semula, adalah hanya menetapi darma. Disini derajat kusir ada dibawah senapati”.

“Sudah tak terhitung berapa kali rasa sakit yang pernah melukai hatiku karena kelakuanmu. Sewaktu Prabu Kresna menjadi duta di awal perang kemarin, kamu sudah melukai hatiku dalam pasamuan agung. Belum sembuh luka itu, sekarang kamu melakukan hal yang sama, aku kamu jadikan seorang kusir. Kalau tidak sungkan dengan anak Prabu Duryudana, aku tidak sudi melihat mukamu yang membuat aku muak. Dan kamu tidak berwenang untuk memerintah aku!”. Kejengkelan Prabu Salya tidak juga reda.

“Rama, sekali lagi putra paduka mohon  maaf, kami persilahkan rama Prabu untuk menaiki kereta. Ketahuilah rama, sudah ada tanda tanda dalam diri putramu, detak jantung didada ini mengisyaratkan kematian putramu sudah menjelang. Kami persilakan rama Prabu untuk mengantarkan kematianku,  rama Prabu . . . . ”. Campur aduk perasaan kedua manusia menantu dan mertua itu mengawali langkahnya menuju ke palagan peperangan. Inilah titik dimana perasaan yang tidak sepenuhnya bulat telah melemahkan moral perang senapati Kurawa.

Baru saja kereta bergerak, mendadak melayang bagai awan hitam bergulung diatas palagan. Itulah Naga Raja  Guwa Barong, Prabu Hardawalika. Seekor naga yang mengincar kematian Arjuna. Adipati Karna yang melihat keanehan naga mengarah ketempat ia bersiap, segera menghentikan laju geraknya dan menanyakan maksudnya “Heh kamu mahluk yang mencurigakan, siapa kamu dan apa maksudmu membuat keruh suasana peperangan!”.

“Aku penjelmaan raja raksasa dari Guwa Barong. Aku bermaksud hendak membantu kamu menandingi Arjuna”. Naga raksasa itu dengan tidak ragu mengatakan maksudnya.

Tetapi sungguh tidak disangka, jawaban yang diterima adalah bentakan yang menyuruhnya ia pergi. “ Heh naga mrayang, Arjuna adalah saudaraku. Kalaupun aku berselisih sehari tujuh kalipun, tak akan pecah persaudaraanku. Menyingkirlah atau akan aku percepat sempurnanya kematianmu!”.

“Haaah . . perbuatan yang sia sia. Ternyata aku mengatakan hal ini kepada tempat mengadu yang salah. Tetapi hal ini tidak akan menghalangiku untuk membalas kematianku moyangku”. Melayang kembali Hardawalika kearah berlainan untuk mencari keberadaan Arjuna.

Kresna yang tidak pernah terhalangi kewaspadaanya sedikitpun, segera tahu apa yang ada dihadapannya, ketika awan mendung tiba tiba membayang diatasnya.

“Arjuna, diatas pertempuran itu ada seekor naga penjelmaan Prabu Hardawalika. Lepaskan panahmu, sempurnakan kematian Prabu Hardawalika”.

Tidak lagi membuang waktu, segera dipentangnya busur yang telah diisi anak panah. Melesat anak panah menempuh bayangan naga, sirna seketika ujud dari naga Hardawalika yang kembali membuat suasana palagan menjadi terang.

Syahdan, kedua Senapati dari kedua belah pihak telah sama sama bergerak mendekat. Maka suasana palagan peperangan menjadi gaduh, kemudian setelah jarak keduanya menjadi semakin dekat kejadiannya justru menjadi terbalik. Peperangan segera terhenti bagai dikomando. Suasana yang berkembang menjadikannya Arjuna termangu. Prabu Kresna yang melihat suasana hati Arjuna segera dapat menebak apa yang dipikirkannya.

“Arjuna, tatalah rasa hatimu! Hari ini sudah sampai waktumu harus meladeni tanding dengan kakakmu, Adipati Karna”. 

“Kanda, bagaimankah hamba dapat melayani tanding yuda dengan kanda Adipati Karna. Suasana beginilah yang selalu mengingatkan akan Ibu Kunti” keluh Arjuna.

Kresna telah tahu apa yang melatar belakangi maksud dari keberpihakan Karna terhadap Kurawa. Hal itu telah ia dengar sendiri tatkala ia bertemu dengannya empat mata, ketika ia telah usai menjadi duta terakhir sebelum pecah perang. Semuanya bagi Kresna sudah tidak ada hal yang meragukan. Namun ia tidak mengatakan apapun tentang itu terhadap Arjuna.

“Adikku, hari ini pejamkan matamu, tutuplah telingamu. Kamu hanya wajib mengingat satu hal, darma seorang satria yang harus mengenyahkan kemurkaan. Walaupun saudaramu itu adalah salah satu saudara tuamu, tetapi ia tetaplah ada pada golongan musuh. Dan ketahuilah, bahwa majunya kakakmu Adipati Karna itu, tidak seorangpun yang ditunggu, kecuali dirimu. Dan tidak ada seorangpun di dunia ini yang diwajibkan untuk mengantarkan kematiannya, kecuali dirimu. 

Mari aku dandani kamu sebagaimana layaknya seorang senapati, dan akulah yang akan menjadi kusirmu”. Selesai berdandan busana Keprajuritan, segera mereka menaiki kereta Prabu Kresna, kereta Jaladara. Kereta perang dengan empat ekor kuda yang berasal dari empat benua yang berwarna berbeda setiap ekornya, merupakan hadiah Para Dewa. Bila dibandingkan dengan kereta Jatisura milik Adipati Karna yang telah remuk dilanda tubuh Gatutkaca, kesaktian kereta Jaladara bisa berkali kali lipat kekuatannya.

Suasana berkembang makin hening, diangkasa telah turun para dewata dengan segenap para durandara dan para bidadari. Mereka hendak menyaksikan peristiwa besar yang terjadi dipadang Kuru. Sebaran bunga bunga mewangi turun satu satu bagai kupu kupu yang beterbangan.

Karna yang melihat kedatangan Arjuna berhasrat untuk turun dari keretanya. Kresna yang melihat keraguan memancar dari wajah Arjuna mengisyaratkan untuk menyambut kedatangannya. Berkata ia kepada Arjuna

“Lihat! Kakakmu Adipati Karna sudah turun dari kereta perangnya, segera sambut dan ciumlah kakinya”. 

Arjuna segera turun berjalan mendapatkan kakak tertua tunggal wadah dengannya

“Baktiku kanda Adipati”, Arjuna duduk bersimpuh dihadapan Adipati Karna setelah menghaturkan sembahnya.

“Arjuna, seumpama aku seorang anak kecil, pastilah aku sudah menagis meraung raung. Tetapi beginilah orang yang menjalani kewajiban. Aku bela bela diriku membutakan mata menutup rasa hati untuk mencapai kamukten. Sekarang aku sudah mendapatkannya dari Dinda Prabu Duryudana. Dan sekarang aku harus berhadapan dan tega berkelahi sesama saudara sekandung!”. Karna menumpahkan isi hatinya.

“Kanda Adipati, hamba disini memakai busana senapati bukan untuk menandingi paduka kanda Prabu. Tetapi membawa pesan dari ibu kita, Kunti, untuk kembali berkumpul bersama saudara paduka Para Pandawa. Air mawar bening pembasuh kaki  sudah disiapkan oleh adik adik paduka, Kanda Adipati”. Arjuna mencoba meluluhkan hati kakak tunggal ibu itu.

Kembali Adipati Karna menegaskan apa yang terrasa didalam hatinya. “ Lihat, air mataku jatuh berlinangan. Tetapi aku katakan, tidak tepat apa yang kamu katakan. Sudah berulang kali kamu memintaku untuk berkumpul bersama sama dengan saudaraku Pandawa. Begitu juga dengan Kanda Prabu Kresna, yang ketika itu datang kepadaku dan bicara empat mata. Sekarang sama halnya dengan dirimu, yang juga kembali mengajakku untuk berkumpul bersama. Bila aku menuruti permintaanmu, hidupku akan seperti halnya burung yang ada dalam sangkar emas. Tetapi hidupku tidak bisa bebas. Hidupku hanya kamu beri makan dan minum belaka. Apakah kamu senang bila mempunyai saudara dengan keadaan seperti yang aku katakan?”.

Sejenak mereka berdua saling berdiam diri. Sesaat kemudian Karna melanjutkan.”Tak ada seorangpun didunia ini yang dapat mengantarkan aku menuju alam kematianku, kecuali hanyalah dirimu, dinda Arjuna!  Dan bila aku nanti mati dalam perang tanding itu, sampaikan baktiku pada ibunda Kunti, yang tak sekalipun aku memberi ketentraman batin dalam hidupnya . . . “

Serak terpatah patah suara Adipati Karna ketika ia melanjutkan curahan isi hati terhadap Arjuna.

Kembali susana menjadi hening. Akan tetapi tiba tiba ia berkata dengan nada tegas.  “Hari ini adalah hari yang baik. Ayolah kita bertanding untuk menentukan siapa yang lebih perwira, lebih bertenaga, lebih sakti!”.

“Kanda, berikan kepadaku seribu maaf atas kelancangan hamba berani dengan saudara yang lebih tua”. Kembali Arjuna menghaturkan sembah, berkata ia, yang kemudian mengundurkan diri kembali menaiki kereta Jaladara.

Maka perang tanding dengan andalan ketepatan menggunakan anak panah berlangsung dengan seru. Keduanya sesama putra Kunti tidak sedikitpun berbeda ujudnya dalam busana keprajuritan. Keduanya menggunakan topong yang sama, sehingga banyak prajurit yang sedari tadi berhenti menonton sulit untuk membedakan yang mana Arjuna dan manakah yang Karna, kecuali pada kereta yang dinaikinya.

Pada suatu ketika topong kepala Adipati Karna terpental terkena panah Arjuna. Sejenak Karna meminta Prabu Salya untuk berhenti, dan berkata.

“Rama prabu, hampir saja hamba menanggung malu. Topong kepala hamba terpental oleh panah adi Arjuna”.

“Sudah aku katakan, tak hendak aku ikut campur dalam peristiwa ini. Aku hanya kusirmu. Tapi kali ini mari aku benahi rambutmu biar aku gelung”. Setengah hati Prabu Salya mendandani kembali putra menantunya.

Kembali adu ketangkasan olah warastra berlangsung. Kali ini Kunta Wijayandanu ada ditangan Karna. Waspada Prabu Salya dengan melihat senjata kedua setelah Kunta Druwasa yang telah sirna digunakan oleh Adipati Karna ketika berhadapan dengan Gatutkaca. Maka pada saat menantunya itu melepas anak panah, kendali kereta ditarik, kemudian kuda melonjak. Panah yang sejatinya akan tepat mengenai sasaran, hanya mengenai topong kepala Arjuna dan mencabik segenggam rambutnya.

Aduh Kanda Prabu, topong hamba  jatuh terkena panah kanda Adipati. Apakah ini sebagai perlambang kekalahan yang akan menimpa hamba?”. Arjuna menanyakan.

“Bukan ! Itu peristiwa biasa. Biarlah aku tambal rambutmu dengan rambutku. Sekarang aku akan menggelung rambutmu kembali”. Jawab Kresna, yang kemudian menerapkan kembali gelung rambut baru pada kepala Arjuna.

Kembali kedua putra Kunti berdandan dengan cara yang sama. Semakin bingung para yang melihat pertempuran dua satria yang hampir kembar itu. Bahkan para dewata dan segenap bidadari dan durandara, melihatnya dengan terkagum.

Adu kesaktian telah berlangsung lama, segala macam kagunan dan ilmu pengabaran telah dikeluarkan. Saling mengimbangi dan saling memunahkan kawijayan antara kesaktian mereka berdua.

Namun Arjuna masih memegang satu senjata yang belum digunakan. Itulah panah Kyai Pasupati, yang bertajam dengan bentuk bulan sabit.

“Arjuna !”, Kresna memberikan isyarat, “Sekaranglah saatnya!. Hanya sampai disini hidup kakakmu Adipati. Segera lepaskan senjatamu Pasupati untuk mengantarkan kakakmu ke alam kelanggengan!”.

Panah Pasupati telah tersandang pada busur gading Kyai Gandewa, lepas anak panah berdesing bagai tak terlihat. Walau Arjuna melepaskannya sambil memejamkan mata karena tak tega dan rasa bersalah, namun panah dengan bagian tajam yang menyerupai bulan sabit itu mengenai leher Adipati Karna.

Tajamnya Kyai Pasupati tiada tara, sampai-sampai, kepala Adipati Karna dengan senyum yang masih tersungging dibibirnya tak bergeser sedikitpun dari lehernya. Jatuh terduduk jasad Adipati Karna bersandarkan kursi kereta. Geragapan Prabu Salya yang merasa khawatir dan setengah bersalah. Turun dari kereta ia, kemudian menghilang dari pabaratan, kembali ke Bulupitu.

Namun kejadian sejak dari awal pertempuran tadi, tidak terlepas dari sepasang mata yang selalu mengawasi setiap gerakan sekecil apapun yang dilakukan Prabu Salya. Itulah sepasang mata Aswatama!


(Bersambung)
Banyak sekali versi tentang cerita Karna Tanding.
Petikan dan suntingan dari pagelaran demi pagelaran wayang purwa diatas,
adalah salah satunya yang terpilih untuk diketengahkan.

dalam versi lain, saat tanding lawan arjuna, kereta perang Karna teperosok ke dalam lumpur. sesuai dengan kutukan dari guru Karna yaitu Ramaparasu atau Ramabargawa. Pada saat membetulkan roda ketera yg terperosok itulah, Kresna memerintahkan Arjuna membidik Karna. Gugurlah Karna dengan kepala terpenggal panah Arjuna.

Syahdan,, Karna menyamar sebagai seorang brahmana agar dapat diterima menjadi murid Ramaparasu, karena Ramaparasu tidak mau menerima murid dari golongan ksatria. Pada suatu saat terbongkarlah kebohongan Karna.

Merasa ditipu dan dikhianati, keluarlah kutukan dari sang guru.

Anoman Obong

Prabu Rama akhirnya memerintahkan kepada Anoman untuk melakukan perjalanan kenegeri Alengka. Hal ini dilakukan oleh Prabu Rama mengingat berita yang simpang siur tentang keberadaan Dewi Sinta.Pertimbangan itu diambil karena Anoman memiliki kesaktian yang cukup tinggi. Sehingga apabila menghadapi musuh yang ditemuinya nanti dalam perjalanan, akan dapat diselesaikan dengan baik. Terlebih-lebih pula Anoman dapat terbang keangkasa, sehingga Prabu Rama dapat memperkirakan, perjalanan Anoman akan lebih cepat dari pada para senapati lainnya. yang lewat daratan. Apalagi perjalanan ini akan melewati samudera, dan merupakan tugas pertama menuju Alengka

Anoman berpamitan kepada Prabu Rama,untuk segera melaksanakan tugas. Namun kemudian datanglah Anggada menghadap Prabu Rama.*Anggada adalah putra Subali dengan Dewi Tara. Anggada minta Prabu Rama untuk membatalkan niatnya untuk mengutus Anoman ke Alengka. Akhirnya Anoman dan Anggada berkelahi memperebutkan tugas ke Alangka. Prabu Rama melerai keduanya agar tidak berkelahi.


Keduanya didudukkan bersama. Prabu Rama menguji kelebihan masing-masing. Prabu Rama menanyakan pada Anoman berapa lama waktu perjalanan yang ditempuh dalam melakukan tugas. Anoman menyangggupi 10 hari. Diperkirakan oleh Anoman, Kerajaan Alengka jauh letaknya, disamping itu ada kemungkinan dalam perjalanan nanti akan menghadapi mata-mata Prabu Dasamuka, yang pasti akan menghambat perjalanan berikutnya. Sedangkan Anggada menyanggupi 7 hari. Kemudian keduanya tawar menawar. Anoman menyanggupi 5 hari parjalanan menuju Alengka. Anggada tidak mau mengalah, ia menyanggupi 3 hari perjalanan menuju Alengka. Anoman akhirnya menyanggupi 1 hari. Kemudian Prabu Rama menunjuk Anoman untuk berangkat ke Alengka. Perjalanannya menuju Alengka disertai Para Punakawan, Semar, Gareng, Petruk dan Bagong..

Untuk memudahkan perjalanan, para punakawan dimasukkan dalam kancing gelung Anoman. Dari penulis menginginkan Semar, Gareng, Petruk dan Bagong bisa terbang, mengikuti Anoman yang sedang terbang dalam perjalanannya ke Alengka, namun karena tidak lazim, ada Semar, Gareng, Petruk dan Bagong bisa terbang, maka mereka saya masukkan saja dalam kancing gelung Anoman. Mereka sebenarnya bisa terbang, karena Semar adalah jelmaan Dewa, Gareng dan Petruk adalah gandarwa sedangkan Bagong adalah bayangan Semar.

Pada hari pertama perjalanannya, Anoman pergi ke kahyangan, menemui Batara Surya . Dimintanya Batara Surya mau mengikat matahari supaya tidak bergeser ke Barat. Batara Surya keberatan,dan tidak bisa menyanggupi kemauan Anoman. Anoman memaksa Batara Surya untuk memenuhi permintaannya.Maka terjadilah perkelahian antara keduanya. Semar segera melerai perkelahian mereka. Akhirnya Semar sendiri yang minta agar Batara Surya mau menuruti kehendak Anomann. Akhirnya.Batara Surya memenuhi keinginan Anoman, mengingat Semar adalah Sanghyang Ismaya adalah ayahanda Batara Surya sendiri,.Anoman meminta Batara Surya tidak melepaskan matahari sampai Anoman kembali ke Pancawati.. Batara Surya menuruti permintaan Anoman. Batara Surya mengikat matahari yang posisinya masih diatas kepala, sehingga negeri Pancawati akan mengalami siang yang berke panjang an selama Anoman dalam perjalanan.

Ditengah perjalanan di angkasa menuju Alengka, Anoman kehilangan arah. Anoman sudah berada diatas lautan Hindia. Laut luas membiru. Anoman terkejut merasa ada kekuatan besar yang menyedot tubuhnya, Tiba-tiba saja tubuh Anoman tertarik kebawah dan masuk dalam perut raksasa.Raksasa itu Wil Kataksini, yang bertugas menjaga lautan Alengka. Tubuh Anoman tidak berdaya dan berusaha keluar dari mulut raksasa Wil Kataksini.

Anoman dengan sekuat tenaga menendang-nendang dan mencakar-cakar dalam perut Wil Kataksini. Kataksini merasa dalam perutnya perih dan geli. Anoman yang ada dalam perut itu di muntahkan kembali keluar mulutnya. Setelah itu tubuh Wil Kataksini menjadi limbung, dan roboh, Wil Kataksini tewas.

Sementara itu tubuh Anoman bagaikan dibanting, Anoman jatuh terpelanting di daerah pegunungan. Anoman memperkira kan daerah Suwelagiri, sangat cocok untuk menghimpun pasukan dan menyusun pertahanan Prabu Rama dalam penyerangan ke istana Alengka atau tempat unntuk memata-matai Prajurit Alengka.

Anoman sudah tidak bisa terbang lagi. Ia melanjutkan perjalanan lewat daratan dengan tertatih-tatih. Setelah berjalan begitu lama, Anoman tidak kuat lagi. Ia jatuh pingsan. Semar, Gareng, Petruk dan Bagong, segera keluar dari kancing gelung Anoman. Semar, Gareng, Petruk dan Bagong membawa Anoman ketempat berlindung.


Tidak jauh dari tempat itu, terdapat sebuah goa, yaitu Goa Windu tempat bersemayamnya seorang pertapa wanita bernama Dewi Sayempraba. Dewi Sayempraba adalah mantan istri Prabu Dasamuka. Ia seorang bidadari. Semar, Gareng, Petruk dan Bagong yang memapah Anoman sudah sampai dihadapan Dewi Sayempraba. Dewi Sayempraba segera menyambut kedatangan para tamunya. Setelah beberapa hari dirawat di dalam goa, Anoman sadar dari pingsannya. Ia terkejut ketika mengetahui dirinya berada di dalam istana yang megah, Anoman kagum ternyata di dalam goa terdapat istana yang megah dan indah. Ia pun melihat ada seorang dewi cantik berada dihadapannya. Anoman tertarik kecantikan Dewi Sayempraba. Selama dalam perawatan Dewi Sayempraba Anoman tidak tahu apa yang dilakukan pada dirinya.

Kelihatannya Anoman terpedaya dengan kecantikan dewi Sayempraba. Anoman dan para punakawan dijamu dengan makanan yang lezat dan minuman yang menyegarkan. Anoman dan para punakawan makan dengan lahapnya.Anoman memang lapar. Sudah lama ia pingsan jadi sudah beberapa hari tidak makan. Selesai makan minum, Anoman berpamitan mau melanjutkan perjalanan menuju Alengka. Dewi Sayempraba menghalangi Anoman, agar tidak meninggalkan Goa Windu. Sayempraba menghendaki agar Anoman bersedia memperistrinya. Anoman menolak ajakan dewi Sayempraba. Kemudian Anoman segera mengajak para punakawan meninggalkan istana Sayempraba.

Sepeninggal Anoman, Dewi Sayempraba gundah gulana. Ia kecewa Anoman tidak menanggapi cintanya. Padahal Dewi Sayempraba sangat mencintainya. Namun Dewi Sayempraba percaya, kalau Anoman akan kembali ke Goa Windu pada suatu saat.

Setelah beberapa lama berjalan meninggalkn goa. Tiba-tiba kedua mata Anoman seakan akan melihat seberkas cahaya yang sangat menyilaukan. Kemudian pandangan menjadi gelap, Anoman menjadi buta Anoman menjadi sedih, Ia merasa gagal melak sanakan tugas dari Prabu Rama. Para panakawan memapah Anoman dan mencarikan orang yang dapat mengobati sakitnya.

Anoman kelihatannya masih beruntung, agaknya tangisannya didengar oleh seekor burung garuda, yang bernama Sempati. Sempati mencoba mengobati Anoman. Sebelumnya Burung Sempati memohon dewa agar dapat menyembuhkan mata Anoman. Sempati mengobati kedua mata Anoman dengan meneteskan air liur dari paruhnya. Permohonan burung Sempati kepada dewa, agaknya dikabulkan Dewa, Anoman sembuh. Anoman sudah tidak buta lagi.

Burung Sempati menceriterakan saudaranya, Burung Jatayu, yang tewas ketika melawan Prabu Dasamuka. Burung Jatayu sebenarnya mau menyelamatkan Dewi Sinta yang diculik Prabu Dasamuka. Namun Jatayu gagal membawa Dewi Sinta ke Ayodya, karena Prabu Dasamuka, membabat kedua sayapnya dan lehernya dari belakang, sehinga burung Jatayu jatuh ke bumi.Sedangkan Dewi Sinta dapat direbut kembali oleh Prabu Dasamuka dan dibawa ke negerinya, Alengka. Beberapa saat kemudian, Jatayu pun tewas. Anoman mendengar cerita Burung Sempati menjadi semakin yakin, bahwa yang menculik Dewi Sinta adalah Prabu Dasamuka. Anoman dan para Punakawan mengucapkan terima kasih pada burung Sempati karena telah menyembuhkan Anoman dari kebutaannya. Anoman dan para Punakawan berpamitan kepada burung Sempati, untuk meneruskan perjalanannya ke negeri Alengka Oleh Anoman para Punakawan dimasukkan kembali dalam kancing gelungnya. Kemudian Anoman melesat jauh keangkasa menuju Istana Alengka. Perjalanan Anoman ke istana Alengka dirasa tidak terlalu lama lagi. Setelah beberapa saat kemudian sampailah Anoman ke Istana Alengka.


Indrajid anak Prabu Dasamuka yang sedang berjaga di luar Istana melihat sekelebatan makhluk asing yang berlalu dihadapannya. Indrajid penasaran, ia segera mencari keseluruh penjuru Istana. Anoman sekarang sudah berada di taman Asoka. Ia bersembunyi diatas pohon Nagasari yang rimbun daunnya.

Sementara itu di Kaputren taman Asoka, Prabu Dasamuka merasa kecewa, karena dewi Sinta belum mau diboyong ke dalam Istana. Prabu Dasamuka berniat memaksa dewi Sinta untuk melayani dirinya. Namun niat Prabu Dasamuka dapat diurungkan oleh Dewi Trijatha anak Wibisana, adik Prabu Dasamuka. Prabu Dasamuka meninggalkan taman Asoka dengan kecewa.

Untuk menghilangkan gundah hati Dewi Sinta, Dewi Trijatha mengajak Dewi Sinta ke taman bunga yang letaknya dekat pohon Nagasari, dimana tempat Anoman bersembunyi. Anoman segera meloncat dari pohon. Kedua wanita itu menjadi terkejut, ketika melihat makhluk asing didepannya. Anoman memperkenalkan diri bahwa ia utusan Prabu Rama. Anoman menyampaikan pesan Prabu Rama agar Dewi Sinta bersabar menunggu kedatangan Prabu Rama untuk menjemputnya. Anoman menawarkan jasa, apabila Dewi Sinta menghendaki Anoman akan membawa pulang ketempat Prabu Rama.

Anoman memberikan cincin dari Prabu Rama kepada Dewi Sinta. Dewi Sinta menerima pemberian cincin dari Prabu Rama, dan dipakai dijari manisnya. Namun sayang cincin itu menjadi kebesaran, karena Dewi Sinta menjadi kurus kering, setelah tinggal di Alengka. Dewi Sinta menitipkan sebuah sisir yang sudah lama tak dipakai. Karena sejak di Alengka Dewi Sinta sudah tidak mau menyisir rambut dan merawat dirinya. Kelihatannya badan Dewi Sinta menjadi rusak. Dewi Sinta merasa tersiksa di negeri orang, jauh dari Prabu Rama. Dewi Sinta tidak bersedia dibawa Anoman pulang ke tempat Prabu Rama. Dewi Sinta menginginkan Prabu Rama sendiri yang menjemput pulang.

Belum selesai mereka saling bicara, Indrajid dan pasukannya telah mengepung taman Asoka. Anoman sengaja tidak memberi perlawanan, agar mereka menangkap dirinya. Anoman bermaksud mengukur kekuatan pertahanan Alengka. Indrajid segera membawa Anoman ke tempat Prabu Dasamuka yang sedang mengadakan pertemuan agung, yang dihadiri Patih Prahasta, adik-adik Prabu Dasamuka, seperti Kumbakarna, Sarpakenaka, Wibisana, para putera Prabu Dasamuka serta raja-raja taklukan Kerajaan Alengka.

Setelah Anoman dibawa masuk ke dalam Istana, Indrajid menghadap Ayahandanya dan melaporkan semua kejadian yang baru terjadi. Mendengar itu muka Prabu Dasamuka menjadi merah padam.Prabu Dasamuka marah bukan kepalang.

Oleh Prabu Dasamuka, Indrajid disuruh mengikat Anoman di depan istana, dan dibakar hidup-hidup.Indrajid berangkat melaksanakan tugas. Anoman digelandang keluar istana dan di ikat di tiang depan istana. Anoman melihat beberapa orang perajurit membawa kayu bakar, dan menumpukkannya di sekeliling Anoman berdiri. Indrajid dan para perajuritnya masuk kembali ke istana, dan melaporkan kesiapannya untuk membakar Anoman .

Sewaktu Indrajid dan perajurit-prajuritnya masuk istana, datanglah Togog, seorang Abdi Kerajaan Alengka jelmaan Sanghyang Antaga mendatangi Anoman. Dibawakannya Anoman sebuah kendi yang berisi air minum yang sejuk dan menyegarkan. Anoman memang sejak tadi merasakan kehausan, karena sejak kedatangannya di negeri Alengka belum minum sama sekali.Anoman segera menerima kendi itu dan meminumnya. Anoman merasakan tubuhnya menjadi segar kembali.
Anoman berterima kasih kepada Togog dan berpesan, agar Togog memasang janur kuning diatap rumahnya.

Tiada lama kemudian Indrajid bersama ayahandanya, Prabu Dasamuka beserta para adik dan putera-putera yang lainnya mendekati Anoman. Wibisana, Adik Prabu Dasamuka meminta kakaknya bisa berbuat bijaksana. Dimintanya Prabu Dasamuka melepaskan Anoman dan menyuruhnya pulang ke Negara asalnya.

Prabu Dasamuka tidak memperdulikan permintaan adiknya. Prabu Dasamuka segera menyuruh Indrajid segera membakar Anoman. Dengan sekali sulut saja, terbakarlah seluruh tumpukan kayu disekeliling Anoman. Anoman kelihatan sudah terbakar dan sekarang yang nampak hanyalah nyala api yang membumbung tinggi. Api semakin membesar dan menjilat-jilat sampai setinggi istana.

Setelah ikatan Anoman terlepas, Anoman terbang dengan membawa api yang menyala ditubuhnya. Api tidak membakar Anoman. Anoman melemparkan api-api itu keseluruh bangunan istana. Istana Alengka terbakar. Penghuninya lari pontang-panting.Seluruh bangunan istana habis terbakar.

Untunglah masih ada satu tempat yang tidak terbakar, yaitu sebuah rumah gubug milik Tejamantri Togog. Prabu Dasamuka dan segenap keluarga dan perangkatnya mengungsi kerumah Togog. Selesai membakar istana Alengka, Anoman pun meninggalkan Alengka kembali ke negeri Pancawati.

Anoman sekarang sudah kembali ke Negara Pancawati. Mataharipun mulai bergeser ke barat.Rupanya Bathara Surya telah mengetahui kepulangan Anoman ke Pancawati, sehingga tali pengikat matahari pun dilepas.

Anoman kemudian menceriterakan semua kejadian yang dialami, khususnya pertemuan dengan Dewi Sinta.Kepada Rama, Anoman menyerahkan titipan Dewi Sinta berupa sisir yang sudah lama tidak dipakainya. Dewi Sinta tidak akan pergi dari Alengka kalau yang menjemput bukan Prabu Rama sendiri. Sehingga ajakan Anoman untuk memboyong Dewi Sintapun ditolak olehnya. Prabu Rama bersedih hati mendengar laporan Anoman, ia terharu mengetahui Dewi Sinta istrinya selalu setya padanya. Prabu Rama berjanji akan segera menyusul Dewi Sinta ke Alengka, untuk memboyongnya pulang kenegeri Ayodya.

Prabu Rama segera bersiap-siap menggelar perang melawan Prabu Dasamuka.Prabu Dasamuka nantinya hanya ada dua pilihan, memilih dengan cara damai yaitu Prabu Dasamuka mengembalikan Dewi Sinta kepada Prabu Rama, ataukah dengan perang.

Untuk membawa pasukan ke negeri Alengka, Prabu Rama merenca nakan membuat jembatan atau menambak air laut sehingga di laut ada jalan yang bisa dilewati pasukan Prabu Rama, mulai dari Pantai Pancawati ke daratan Alengka.

PEDHUT MANDARAKA (4)



Sejuknya tempat berteduh membuat para panakawan terlena duduk terkantuk. Sementara Pamadi sendiri duduk berdiam diri. Semar yang tidak tahan dengan suasana beku kemudian memanggil salah satu anaknya. “Tole, Nala Petruk . . . “

Petruk yang dipanggil tertawa kecil kemudian katanya, “Aku bilang, ini bukannya keliru, tapi ini disengaja. Apa ada, Nala kok Petruk. . . . . ?!”

“Biar saja, yang kasi nama situ, yang ngerusak ya situ. Biarkan saja!” Gareng ikut ikutan menjawab dengan ketus, “Kalau orang tua yang tau tuanya, mestinya harus mengerti segala tingkah tanduk, dan suaranya juga harus mengikut irama, tidak gegabah dengan suaranya. Dulu siapa yang memberi nama kita ini. Pastilah bapak kita, Kyai Semar. Nala Gareng sudah tepat buat aku. Nala Gareng itu nama yang bener,  sampeyan ini maunya gimana to Ma? Kalau yang dipindah cuma nama saja boleh-boleh saja, kalau rumahkuyang dipindah  juga nggak apa apa. Nah kalau yang dipindah istriku, gimana coba”. Gareng mencoba protes ke Semar

“Lha kalau yang dipindah istrimu, apa aku sudi begitu Kang? Jangan mengukur aku dengan ukuran kamu. Aku itu kalau bukan orang yang  “mbudaya”, enggak kok. Kalau aku bilang enggak kalau bukan yang kinyis-kinyis, seperti bidadari yang menjelma manusia” Petruk yang tidak enak sama Gareng menjawab. Gareng diam.
“Toleee . . . , Kanthong Gareng”.

Petruk maklum, maka ia menjawab panggilan bapaknya walaupun itu salah. “Yahh, apapun itu, aku mau jawab. Sebab yang kasih nama situ kok. Biasanya kalau enggak dituruti, nanti trus marah. Jadi, bener aku turuti, salah juga aku ikuti, kalau sudah terpojok dia bakal mati kutu!!”. 

“Orang tua kok maunya diasuh! Apa ada yang seperti kyaine itu”. Gareng yang belum hilang mangkelnya kembali nyerocos. “Seharusnya yang diasuh kan kita ini. Apa-apa bisik-bisik jangan bilang ke ibumu. Penyakit menempel. Nggak sampai disapu angin ribut, baginya sudah nama untung. Kalau tidak orang tua yang umurnya sudah banyak, entah bakal aku apakan dia!”. 

“Silakan Pak Bei meneruskan umpatan Bapak”. Kata Semar “Eeeh kamu ngomongin bapakmu dihadapanku, nyerocos, banyak banyak kata-katamu he”.

“Tolee, Jangkrik Genggong . . . . “ Kembali Semar memanggil anaknya, Bagong, pura-pura salah panggil
“Yang mana lagi ini yang dipanggil?” Petruk juga pura-pura tanya.

“Nggak tau ya, siapa yang dipanggil. Jangan jangan dia punya anak lagi selain kita. Diam-diam rama Semar itu juga suka slundap-slundup begitu. Kelihatannya nggak, tapi nggak taunya iya. Lha emang dianya sudah tua. Lah lain lagi kalau seperti kamu, Kang Gareng, yang masih muda, enggak agak iya dan kalau iya jadinya agak seperti tidak. Makanya mudah ketauan”.

“Genggong . . “.

Apa Ma? “Weton” kamu dulu apa ta Ma?” tanya Bagong yang mau tidak mau memutuskan untuk menjawab.
“Eeeh . . . .  ada apa anak ini pake tanya tanya?”

“Aku mencari tau hari lahirmu, aku mau santet kamu Ma. Orang memberi nama Bagong kok terus jadi jangkrik genggong. Itu kan namanya sampean itu tidak menghargai suaramu sendiri”.

“Lho namamu siapa sebenarnya?” tanya Semar.

“Namaku Bagong . .”

“Aku panggil jangkrik genggong kok kamu nyahut? Kamu “galak lidah” ya? Kamu mau tau urusan orang, selalu iri dengki, kalau sesuatu yang lain, seharusnya disarung lebih dulu”. 

“Disaring, bukan disarung . . . “ Jelas Petruk menyela.

“Aku tidak memanggil dia kok dia main nyaut saja.”

“Ya sudah kalau nggak manggil aku ya nggak apa-apa. Tapi aku kan sampeyan yang bawa, iya kan? Setelah sampeyan nggak bisa menyesuaikan diri kok aku disia-sia?!” jawab Bagong yang kemudian diam.
“Aku heran Thole”. Semar mulai mengalihkan pembicaraan.

“Heran yang bagaimana?” Petruk yang masih sabar, menjawab

Berkali kali kalau mengikut bambangan (satria turun gunung) kok susah dimengerti. Oh mbok dadung manuk (tali penjerat burung;[kala]), kala-kala Bambangan harusnya hatinya gembira. Sebutan raksasa; [kala], kala-kala harusnya membuat hati gembira. Ketonggeng kecil; (dapat dari kata [kala]); kala-kala harusnya kita mengikut bambangan memjadikan kita gembira, nggak harus selalu mengerinyitkan dahi”. Semar menjelaskan dengan wangsalan.

Lalu kemudian melanjutkan. “Aku sampai kisruh bolehnya mengira-ira. Menafsirkan orang diam itu malah sulit. Diam karena memang wataknya atau diam karena susah. Apa juga diam karena marah, sampai susah aku menduga duga”.

Keluh Semar nyerempet ke Gareng “Beda dengan diamnya Gareng, Cuma ada dua sebab, kalau nggak sedih ya cari kesempatan. Itulah bedanya dengan momongan kita, Permadi”. Kembali Gareng yang temperamental hendak marah tapi ditahan Petruk.

Setelah reda Gareng malah menyahut “Sudahlah Ma, yang sudah-sudah ya jangan diulangi lagi. Yang penting, dulu kita sudah sanggup mencari adanya Dewi Erawati, yang sudah dicuri oleh “duratmuka”.
“Apa itu?” Tanya Petruk.

“Duratmuka itu bukannya nama lain dari pencuri?” balik Gareng nanya.

“Reng, sebetulnya kamu ngerti sastra apa enggak sih? Duratmaka kok kamu bilang duratmuka ?!”. kembali Petruk memberi penjelasan”.

“Ooh pantesan aku pernah diketawain orang tuh, aku pernah ndongeng dihadapan orang sependapa, aku bilang begini: Para hadirin, yang namanya Bethari Nagagini itu sebenarnya bidadari. Tetapi kalau sedang triwikrama dia bisa menjadi “sardula”. Aku kira sardula itu artinya ular, nggak taunya sardula itu berartimacan. Maka aku ditertawakan orang banyak. Nggak taunya menerapkan kata sastra itu tidak gampang, ya Truk. Pakai tata bahasa dan pakai tata cara”. Gareng pasrah

“Ya iya lah”. Petruk menjelaskan “Saya terima dengan tangan saya dwi, itu juga tidak boleh. Aku terima dengan kedua tangan, harusnya begitu”. 

“Ada lagi yang menertawai aku sampai tertawa ngakak, sewaktu aku menggambarkan diri aku sendiri”.Gareng kembali mengisahkan ketika ia salah menggunakan sastra.

“Yang macam mana?”

Para hadirin, kalau saya berdandan seperti ini, saya kelihatan seperti layaknya seorang  “rajakaya” . nah disini orang orang pada ketawa semua.” 

“Yang kamu maksud itu apa?”

“Rajakaya menurutku raja yang kaya.” Gareng menjelaskan kesalahannya

“Bukan! Rajakaya artinya kerbau sapi kambing dan binatang ternak sejenisnya.” 

Bagong yang dari tadi diam, ikut menyela, “Ini pada ribut masalah pribadi apa merembuk kita ikut orang? Kamu itu digaji” . Petruk dan Gareng yang sedari tadi ribut kini terdiam.

Suasana yang menjadi sepi membuat Semar membuka mulut. Ia menyanyikan pupuh Dhandanggula dengan laras pelog. Tangannya mengipas kipaskan daun waru, walau udara sebenarnya sejuk.

Kawruhana, sajatining urip
Manungsa ‘ku urip aneng donya
Prasasat mung mampir ngombe,
Upama peksi mabur, oncat saking kurunganeki,
Pundi pencokan mbenjang, ywa kongsi kaliru
Upama wong lunga sanja, jan sinanjan tan wurunga bakal mulih
Mulih mula mulanya.

Kurang lebih artinya:
Mengertilah, sesungguhnya
manusia hidup didunia itu
hanya seperti (orang) mampir minum
umpama burung terbang, lepas dari kurungannya
dimana ia bertengger nantinya,  janganlah sampai keliru.
umpama orang bepergian, bergaul, dan tidak urung pulang kembali,
pulang ke asal mulanya.

Demikian Semar mengakiri tembang Dhandhanggula, sambil tetap mengipas kipas badannya. Belum puas, satu bait lagi ditembangkannya masih dengan Dhandhanggula-nya

Angudhari (?) wasitaning ati
cumanthaka aniru pujangga
dhahat mudha ing batine
nanging kedah ginunggung
datan wruh yen akeh ngesemi
ameksa angrumpaka, basa kang kalantur
tutur kang katula tula, ginalaten winuruk kalawan ririh
mrih padhanging sasmita. . . .

(pupuh ini menyindir penulis yang berani beraninya menulis disini seperti layaknya seorang pujangga. Walau banyak yang hanya senyum melihat kecethekan tulisannya. Tapi saya pikir lebih baik bertindak daripada hanya diam. Dan saya butuh “ririhnya wuruk” atau “comment” membangun dari anda pembaca)
Demikian setelah Dhandhanggula selesai, menyusul langgam Setya Tuhu berkumandang
Aku kang setya satuhu/ wit biyen nganti saiki/ bebasane, peteng kepapag obor sumunar//
Andika pangayomanku/ lahir batin tuwuh nyata/ mung sajake andika semune kurang rena//
Tandha yekti paseksene, rikalane/ najan awrat. . . / mlampah tebih datan nesu/ (mugi lestari-a) . . .
Mugya_ antuk berkahing widi/ andika mung tansah limpad/ panyuwunku, setya kula, tansah anglam-lami//

Diriku yang benar-benar setia
dari dulu hingga kini
seupama dalam kegelapan, bertemu dengan sinaran obor

Dirimulah pengayomanku
lahir dan batin tumbuh menjadi nyata
tapi agaknya andika kurang berkenan.

Saksi akan tanda-tanda itu
walau seberat apapun
jalan sejauh apapun (aku) tidak marah

Semoga mendapat berkah dari tuhan
andika selalulah dapat mengatasi
Permintaanku, kesetiaanku akan selalu (engkau) kenang.

Terkantuk kantuk anak-anak Semar mendengarkan langgam yang demikian mencabut sukma.
Setelah dilihat anak-anaknya terlena oleh irama tadi, Semar menyapa Pamadi, “nDara Permadi, abdi paduka sudah menanti. Segera andika beri kami keterangan, ini mau kemana. Mau ke utara, keselatan atau tetap nongkrong disini saja? Bagaimana mau selesai pekerjaankita, kalau kita tetap diam seperti ini”.
Bagong yang berbaring-baring masih membuka mulut memberi masukan terhadap bapaknya “Itu salahmu Ma, yang nggak bisa memuaskan momongan kita. Maunya slendro kok dikasih pelog. Coba sekarang diberi slendro, setelah tadi kita suguhi pelog ternyata belum lega.”

Semar diam mencerna kata kata Bagong. Kemudian Semar buka mulut menembangkan Sinom Grandel.

Memanismu kang ngujiwat
agawe rujiting galih
‘rerepa kang sinedya
upama mundhuta rukmi,
Tartamtu tak turuti
ibarat wong numpak prau
lumampah tanpa welah
neng madyaning jalanidi,
temah gonjing anggenjong neng pagulingan.

[Catatan: Pupuh Sinom Grandhel ini sangat tenar untuk saat sekarang, dimana dhalang banyak yang bertindak selaku MC dan penyaji pilihan pendengar. Mereka, para dhalang, banyak yang meluangkan waktunya mengatur para tamu dan penonton yang hendak ikutan berpartisipasi unjuk kebolehan, hingga melantur dari cerita pagelaran yang sesungguhnya] ;)

Selesai Sinom Grandhel, “bawa” ini diteruskan dengan gending “Sapa Ngira”:

Sapa ngira/ bareng wus akhir diwasa// tandang tanduk solahe sarwa jatmika/ welingku aja kemba/ anggonmu darbe prasetya/nandyan aku tan kengguh mulat  endahe/ya mung kowe katon ngawe awe/ sebab/ sapa ngira pinter ngadi sarirane/ sapa ngira- sapa ngira/ muga nindakna utama/ singkirana-singkirana/ panggoda kang tan prayoga//.

Pamadi yang merasa terhibur dengan tingkah para pemomongnya tersenyum, panggilnya kemudian,“Semar . . . . . . ”.

Terkaget, Semar menjawab tergesa-gesa, “Eee saya.  Ada yang hendak andika perintahkan?”

“Bingung rasa hati ini, yang sudah kadung sanggup memulangkan kanda Erawati ke Mandaraka. Tetapi kakang, sampai sekarang belum ada titik terang, dimana adanya kanda Herawati. Cara apa yang harus aku tempuh, bagaimana bila tidak ada keterangan. Apa nanti ada kejadian Pamadi mendapat malu”. Jelas Parmadi. Suasana hati yang gundah, telah menjadikannya buntu jalan pikirannya. Belum lagi kata kata serapah dari Surtikanti ketika menjelang berangkat, masih membebani benaknya.

Semar yang tahu betapa galau rasa hati momongannya, kemudian mencoba memberikan pencerahan.“Eeeeh . . . , Jangan sampai bicara begitu, sampeyan itu satriya tohjali-nya jagad. Bicara begitu boleh, ngresula juga boleh, tetapi harus mengutamakan rasa nelangsa. Nelangsa itu tidak berarti  mutung, tapi pasrah kepadaNya. Walau dalam tata lahir tetep menjalankan tugas, tapi dalam batin juga disertai dengan tetap menjalankan perintah Tuhan. Sebab, orang yang hanya bekerja tetapi tidak ingat terhadap Tuhannya, tidak urung akan selalu menemukan kegelapan. Beda kalau dalam bekerja itu dibarengi dengan laku ‘ibadah. Selain menjadikannya terang jalan yang hendak dilalui, juga sejumlah hal yang ruwet akan bisa terurai. Berbagai hal yang ganjil gampang digenapi. Apalagi bila andika selalu ingat setiap pelajaran dari eyang andika di Saptaharga, Resi Abiyasa”

Permadi kemudian diam. Semar masih mencoba menaikkan kejiwaan momongannya. Sekarang ia melantunkan kembali “pada” (bait) tembang yang sekiranya bisa sebagai pancadan penggugah semangat.

Saben mendra saking wisma
lelana laladan sepi
ngisep sepuhing supana
mrih pana pranawa_ ing kapti
Tistis ing tyas marsudi
mardawaning budya tulus
mesu reh tyas kasubratan
neng tepining jalanidhi
sruning brata kataman wahyu dyatmika

“Yang tadi Itu mau saya artikan seperti ini:

Saben mendra saking wisma, setiap pergi dari rumah. Lelana laladan sepi; bepergian cari tempat yang sepi. Ngisep sepuhing supana; mencari kekuatan diri seperti halnya menyepuh emas. Mrih pana pranaweng kapti; supaya terang jelas dalam hati. Tistising tyas marsudi; sejuk dalam hati yang sebenarnya adalah mencari dimana adanya, Mardawaning budya tulus; mardawa artinya memperpanjang budi yang tulus.Dengan sarana mesu reh tyas kasubratan, artinya mau menjalankan tapa-brata. Neng tepining jalanidi;walau ditepi samudra sekalipunTetapi yang diartikan disini adalah; bukanlah gelarnya samudra itu sendiri. Tetapi sebenarnya adalah gelar cita cita. Alun dan ombak samudra yang tingginya segunung gunung itu, menjadi ukuran dari orang yang mempunyai cita-cita. Orang yang mempunyai cita-cita itu, gerak gelombang hatinya berdeburan seperti itu.

Tentramya hati bila sudah tercapai yang diidam idamkan. Sruning brata ketaman wahyu dyatmika. Sruning brata itu, ketika sedang berjuang mencapai cita, ketaman, artinya, mendapatkan wahyu, yang artinya ganjaran kebahagiaan, sedangkan dyatmika artinya ketenangan, tempat kesentausaan yang langgeng.

Andika harusnya meniru laku orang orang tua andika dimasa lalu. Retaknya tembok dapat disaranani dengan melabur, rengatnya kayu bisa disopak. Tetapi retaknya kewibawaan, pelaburan atau penyopakan itu hanya bisa dilakukan dengan tapa-brata”.

“Kalau begitu kakang, aku tidak ingin segera pulang ke Mandaraka. Walaupun segawat apapun hutan didepan itu, aku akan tetap jalan kedalam-nya. Ayo kita segera melanjutkan perjalanan. Jangan jauh jauh dari tempat aku berdiri. Kalian hanya aku perbolehkan berjalan setidaknya satu jangkauan tangkai tombak jaraknya” Agaknya Pamadi berkenan dengan kata penyurung dari Semar. Maka kemudian diperintahkannya semua untuk bersiap kembali menempuh perjalanan.

Demikianlah, rombongan kecil itu kembali bergerak. Sekarang mereka masuk kedalam hutan, turun naik ke jurang yang curam, dengan duri duri yang lebat bergantungan. Tersuruk jalan mereka oleh sulur penjalin. Mereka tidak ada rasa takut  sedikitpun terhadap bahaya yang mungkin saja mengancam didalam hutan itu.

Makin ketengah Arjuna masuk kedalam hutan. Geger binatang hutan, mereka berlarian menjauh dari rombongan itu. Kalaupun mereka bisa berbicara, maka kita dapat mendengar suara mereka “ Heee teman semua, menyingkirlah kalian semua. Kita membaui ada diantara mereka yang menggunakan minyak Jayengkatong. Pastilah mereka bukan orang sembarangan. Masih keturunan dari orang terhormat. Jangan sampai tersenggol oleh mereka, walaupun kita hanya terpijak bayangannya, bakal terkena walatnya. Mari kita segera menyingkir . . . menyingkir . . . . “, demikian binatang itu segera menjauh dengan suara yang gemeretak dan segera lingkungan sekitarnya menjadi bersih dari para binatang hutan.

Terceritakan ketika itu ada serombongan abdi negara dari Tirtakadasar. Mereka yang membaui wanginya minyak Jayengkatong segera meloncat dari persembunyiannya. Sambil mematahkan kayu kayu dari dahan pohon, berisik gemeretak suaranya.

Pamadi yang dihadang tidak tinggal diam. Dengan ancaman dari para raksasa Tirtakadasar, Pamadi melawan seorang diri. Puluhan prajurit raksasa bukan lawan yang sepadan walau ia dikeroyok. Banyak yang mati oleh kesaktian Pamadi dan sebagian lain melarikan diri, ngeri oleh amuk Pamadi.

Tapi setelah segenap musuh yang telah banyak yang terbunuh dan yang masih sayang dengan jiwanya melarikan diri, tiba tiba terjadi keanehan. Pamadi tiba tiba berkeringat dingin, berleleran disekujut badan bagaikan anak sungai. Kepalanya tiba tiba merasa pening dan badannya menjadi begitu lemas. Seketika pingsan Raden Pamadi. Ternyata serapah Surtikanti telah menjadi kenyataan.

PEDHUT MANDARAKA (3)


4. Yang Rebah Terkena Panah Asmara.

Surtikanti pergi dari hadapan Permadi dengan hati perih. Ia tidak menyangka bahwa dirinya yang anak raja besar, akan mendapat penolakan dari seorang pria. Sangkaannya, bahwa sebagai anak raja besar, semua apa yang dimaui pastilah akan terlaksana. Maka rasa sakit didalam hatinya telah mulai tumbuh menjadi dendam.

Sementara itu, walaupun hanya mengerti sedikit masalah diantara mereka berdua antara Pamadi dan Surtikanti, para penakawan tidak urung ikut menangis. Mereka menyesalkan perlakuan Pamadi terhadap Surtikanti. Mereka menyesalkan tampikan dari Pamade. Tapi apakah tangisan itu tulus atas nasib buruk Surtikanti? Ternyata tidak seluruhnya. Coba dengar apa kata Gareng.

“Aduh Truk, tadi aku lihat den ayu Surtikanti sikapnya begitu lugas. Bicaranya sekalimat demi sekalimat tertata sopan dan rapi. Tapi kenapa ndara Permadi menolak undangannya untuk mampir ke keputren. Padahal Truk, sudah aku bayangkan, disana pasti setidak-tidaknya kita akan disuguhi makanan”. Gareng menelan ludah, kemudian terusnya, “Kalau ndara Permadi nggak masalah menolak undangan itu. Dia memang terbiasa laku prihatin tanpa makan minum berhari hari. Lha kalau kita?”

“Eeeh kalian pada diam kenapa !! “Semar menyela obrolan Gareng.

“Disuruh diam kalau perutnya keroncongan bagaimana bisa diam!” Gareng ngeyel

“Ya dikendalikan . . . “ sabung Semar.

“Dikendalikan cara apa. Apa aku ini kuda liar apa gimana?” Gareng tetap ngeyel

“Eeh ya ditahan gitu . . “

“Kurang berapa lama lagi aku menahan diri. Berhari hari jalan sambil menahan lapar. Ditengah hutan kemarin itu aku nyari ubi gembili buat ganjel perut, tapi begitu sulitnya”.

“Jangan diucapkan pakai kata-kata”.

“Harus dikeluarkan unek-unek itu kok. Kalau tidak, bisa jadi penyakit dalam tubuh”.

“Jangan sampai diketahui orang lain rasa laparmu”

“Kamu anggap suara-suaraku seperti suara  yang nggak kepakai apa gimana?” Gareng masih tetap ngeyel. Semar akhirnya tidak lagi menyahuti kata-kata Gareng. Sekarang ia malah bertanya kepada Permadi.

“Haaa. .  ini bagaimana den, kenapa akhirnya jadi membuat orang menangis. Ini bagaimana? Bagaimanapun yang terjadi, seharusnya andika harus mempunyai rasa kasihan. Dewi Surtikanti itu bukan seorang wanita yang remeh. Ia adalah putri Mandaraka. Andika didekati diajak akrab. Diminta untuk mampir dan mau diberi suguhan sekedarnya dan salin, berganti kain buatannya. Ditolak. Seharusnya adalah, andika mau mampir walau sebentar dan minum barang seteguk. Kalaulah saya menjadi den ayu Surtikanti, pasti saya juga akan sakit hati”. 

Aku jadi teringat waktu lalu. Aku juga pernah merasakan seperti itu.” Petruk menyela sambil meratap.

Namun Gareng yang sebal Petruk menyama-samakan dengan Pamadi berkata, “Gombal amoh kamu Truk. Kamu kok mau kau samakan dengan Raden Permadi. Apanya yang sama?”

“Aku dulu juga pernah disuruh berganti kain”. Jawab Petruk, “Tapi setelah itu, tiap bulan aku dipotong gaji”.

“Itu namanya ngebon!! Ooh memang benar gombal kamu”. Bagong nyahut.

Permadi diam membiarkan para panakwan. Sejurus kemudian setelah mereka diam, Pamadi berkata kepada Semar“Memang aku tidak tega, kakang. Tapi kakang tahu, bila aku teringat akan kewajiban, nanti pasti akan ada kesempatian lain. Yang penting kali ini kita harus keluar dari Mandaraka. Ayo kakang Semar aku bakal pergi memenuhi tugas dari uwa Prabu Salya”.

Demikianlah, maka Pamadi dan para panakawannya telah sepakat segera pergi dari wilayah kraton Mandaraka. Namun belum sampai mereka beranjak, tiba tiba mereka melihat seorang wanita berjalan tergesa-gesa datang mendekat, “Lho . . . itu siapa yang datang kemari ?!!” tanya Petruk

“Eeeh iya, itu ada wanita lagi yang datang kemari. Raden, ayolah ditemui. Ttapi ingat jangan lagi membuat sakit hati”. Sambung Semar

Memang demikian. Kali ini yang datang kembali memenuhi tugas dari ramandanya adalah Dewi Banowati. 
Dengan langkah ringan memikat hati, Banuwati datang seorang diri dengan wajah tengadah, mata yang berbinar dan senyum yang selalu lekat dibibirnya. Setelah ia sampai dihadapan Pamadi dan para panakawan, ia bertanya kemayu. Kali ini Semar disapa terlebih dulu.

“Yang didepan ini,  aku sudah kenal. Bukannya kamu yang tadi aku lihat menghadap rama Prabu? Kakek pamong, bukankah kamu yang namanya Semar?”

“Ya, hamba yang namanya Semar.”

“Yang tiga lagi namanya siapa?” kini ketiga panakawan Pamadi disapa, tetap dengan  suara kenes.

“Hamba Nala Wigareng, Pancal Pamor.  Putranda dari Semar. Pangkat hamba lurah. Punya sapi tujuh dan bengkok saya luas. Motor saya baru . . . “ Gareng mengenalkan diri sambil menyombong.

“Lha kang Gareng ini  malah omong yang enggak enggak”. Petruk menyela, kemudian memperkenalkan diri,

“Nama saya Petruk”.

“Kalau saya Bagong”. 

Kalau aku hendak omong dengan tuanmu, kira kira aku harus berhubungan dulu dengan siapa?” tanya Banuwati.

“Saya”. Sahut Petruk cepat.

“Petruk, yang kamu ikuti itu namanya siapa?” . banuwati pura-pura tanya nama Pamadi.

“Namanya Pamadi”. Jawab Petruk.

Apa dia tidak bisa bicara?” tanya Banuwati.

“Yang sudah-sudah sih bisa!”, Petruk senyum menjawab dengan irama yang terseret oleh nada perkataan Banuwati.

“Omong dengan putri cantik itu harusnya yang halus”, Bagong mengingatkan Petruk.

“Tapi Gong, dianya yang mulai begitu”, Petruk tidak mau disalahkan.

“Petruk, bisanya aku omong sama tuanmu, itu harus dengan cara  bagaimana?” Kembali Banuwati bertanya
“Ada pepatah “jer basuki mawa beya”, Jawab Petruk yang kali ini mengeluarkan ajian akal bulus. “Kalau hendak mencapai keinginan harus ditebus dengan biaya. Misalnya kalau ingin berpakaian baik harus beli lebih mahal. 
Kalau mau makan enak harus keluar uang lebih banyak.  Jadi kalau kepengin omong-omong dengan orang seperti tuanku itu, ya harus melewati jalannya . . . . gitu”. Jurus awal sudah diterapkan. Dan sekarang Petruk mengetrapkan jurus kedua.

“Kalau saya sih tidak mengharapkan apa-apa den ayu. Beneeer, taruhan . . . . . . Kecilnya jari besarnya leher, saya tidak mengharapkan sesuatu apapun. Tapi den ayu lihat sendiri, saya punya sarung cuma satu. Sama . . . .  ya itu . . . saya dari rumah itu nggak bawa bekal seperakpun”.

“Lha Petruk ternya lebih dari minta . . . !“. Bagong yang dari tadi mendengarkan omongan Petruk, akhirnya nyeletuk.

“Petruk, kalau kamu bisa membuat aku dan bendaramu bisa saling bicara, Semua apa yang kamu minta, nanti akan aku turuti. Aku masih punya sabuk yang sudah tidak lagi dipakai oleh rama Prabu, dan sabuk itu terbuat dari kulit ular Dak Brama”. Ujar Banuwati

“Nggak usah saja, Den ayu, sabuk itu nanti malah mbakar pinggang saya. Petruk menolak dan kembali menyambung minta Banuwati menunggu sebentar. “Tunggu sebentar ya den ayu.. . . . . . . Ndara Permadi”,

“Apa Petruk?” Jawab Pamade

“Anu . . . . , kali ini mau diajak mampir ya. Ini rejeki bagi raden. Dan pasti meleber pada saya juga akhirnya. Mau ya”, kata Petruk bisik-bisik.

Semar yang melihat gelagat Petruk ngomong bisik-bisik menimpali, “Eeeeh jangan omong yang enggak-enggak! Ingat, ndaramu itu sedang menjalankan tugas. Aku berani taruhan kecil jari besar leher, sebab ndara Pamadi itu biasa bertindak adil, kalau Den Ayu Surtikanti tadi ditolak, pasti yang ini juga ditolak”.

Gareng ikut bicara mengiyakan, “Pasti nggak bakalan mau”.

“Pasti mau”. Petruk kukuh. “Semua watak ndara Pamadi itu seluruhnya sudah ada digenggaman saya, kok. Aku menjadi pemomongnya sudah lama. Aku bisa melihat setiap gelagat. Sesama orang melirik, lirikan ndara Pamadi dan lirikan orang lain bisa saja berbeda. Apalagi lirikannya Kang Gareng”, sambung Petruk
Sialan kamu Truk. Malah moyoki orang tua!! Gareng yang matanya jereng tersinggung.

“Pamadi . . . “ kali ini Banuwati langsung memanggil Pamadi. Namun Pamadi masih tetep diam.

Ayolah ndara, mbok disahuti gitu?” Petruk mengompori

“Ya raden ayu”. Pamadi menyahut. Kali ini pandangan keduanya bentrok. Pamadi yang dari tadi duduk menghormati anak raja Mandaraka sebenarnya telah tersihir oleh tingkah laku Banowati yang sedemikian memikat. Masing masing mata yang bertaut itu telah memercikkan api asmara dan membakar hati kedua anak muda itu.

Bila Pamadi pada waktu di Mandura ia telah melihat putri Prabu Basudewa yang hitam  manis dan hendak dijodohkan dengannya terlihat ayu, maka di Mandaraka ia menjumpai satu lagi putri raja yang cantik dengan tingkah laku lanyap dan sungguh membuat hatinya runtuh.

Tapi sebenarnyalah. Kedua mata yang bertaut itu masing masing telah melontarkan panah asmara. Terkena telak ke dada masing masing insan muda itu, yang kemudian nampak pada lahiriahnya adalah senyum dibibir masing masing. Sejenak keduanya memalingkan muka, dan pipi Banowati semburat memerah.

Setelah bisa menguasai diri, Banuwati berkata kepada Petruk mengalihkan pandangan dari mata Pamadi“Petruk, aku nggak mau disebut raden ayu sama dia. Mbok panggil namaku saja”.

“Baiklah, anu . .  Banowati mau pergi kemana” jawab Petruk salah mengartikan

Eeeh gombal amoh. Yang dimaui oleh den ayu Banowati itu ndaramu, Pamadi. Bukan kamu. Malah ikut-ikutan nyebut nama”. Gareng coba memberi pengertian.

Biar aja Ma, biar saja Petruk bertingkah, nanti modar dengan sendirinya dia”. Bagong ikut menimpali.

“Baiklah, kanda Banuwati.”

“Petruk . . . aku nggak mau disebut kanda . . . “

“Banuwati . . .”  Pamadi memberanikan diri menyebut nama itu.

“Aduh Petruk . . . . “ sekarang Banuwati yang kelimpungan. Katanya kepada Petruk sekenanya, “Petruk, itu sisa makan burung boleh kamu makan . . . .” Petruk melengos jengkel.

“Pamadi, mbok kamu jangan kelewat berlaku hormat seperti itu” kata Banuwati yang sudah menguasai diri dan muncul kembali sifat-sifat asli yang selalu memandang kehidupan dengan ringan,  Bertindaklah seperti halnya kamu berhadapan dengan saudara yang terpisah lama!

“Ya kanda . . .  eh . . Banuwati.”

“Eeeh ndara Pamadi, jangan mau berlaku seperti itu. Salah salah malah sampean bakal dipukuli orang se Mandaraka” Semar mengingatkan Pamadi agar tidak berlaku seperti yang Banuwati inginkan.

“Petruk . . “ kembali Banuwati memanggil Petruk.

“Ya den ayuu. . “

“Nanti kalau ada demit lewat, berhentikan dia. Suruh demit itu mencekik leher Semar. Banuwati sewot. “Orang kok sukananya ngojok-ojoki. Pamadi sudah mau, malah dicegahnya. Sebaiknya kamu semua malah mendukung. Apa kamu semua mau kelaparan?”.

“Ya mau saja. Orang dari tadi juga cuma dijanji janji saja kok . . . sekalian saja lapar”. Jawab Semar.

Banuwati tidak peduli dan memanggil Pamadi “Pamadi . .  “

Apakah nanti tidak diamarahi uwa Prabu?” Pamadi masih menanyakan keraguannya.

“Tidak. Semua aturan di Mandaraka aku yang mengatur. Jangan sungkan, ayo berdiri. Jangan duduk begitu. Kainmu yang bagus itu nanti kotor kena tanah”

“Apakah tidak kualat nantinya” lagi lagi Pamadi masih merasa sungkan.

“Tidak akan! “ tukas Banuwati.

“Nanti kainmu akan aku ganti yang kotor itu. Aku sudah menyediakan tiga lembar kain batik buatanku sendiri.”

“Lah ini . . . . , kita anak Semar bakal kebagian. Satu buat aku dua buat kang Gareng dan Bagong”. Lagi lagi Petruk salah tanggap. Tapi Banuwati tidak peduli dan meneruskan kata katanya sambil melirik Petruk.

“Kamu pakai satu demi satu dalam tiga hari kamu mampir dikeputrenku. Kalau yang lain dicuci, biar yang sudah kering siap pakai, kamu kenakan”.

“Lho kalau saya dikasih apa?” Petruk masih saja tanya.

“Kamu akan aku kasih terpal”. Banuwati meledek. Kemudian lanjutnya kepada Pamadi

“Pamadi, orang bagus seperti kamu seakan tidak hilang dari pandangan mataku walau mata ini aku pejamkan”. Banuwati maju mendekat kepada Pamade. Tangannya meraih lengan Pamadi dan berkata sambil mendekatkan wajahnya kearah Pamadi, “Alismu seperti digambar. Bibirmu seperti dicetak, sedang hidungmu seperti dibentuk. Kulitmu seperti dilabur emas dan rambutmu hitam berkilau, membuat aku begitu terpesona. Selama hidupku, aku belum pernah bertemu dengan lelaki yang tampan sepertimu”. Rayu Banowati

Pamadi tetap diam tetapi matanya lekat pada mata Banuwati. Ia telah dimabuk cinta.

“Pamadi, mampirlah dikeputrenku ya . . “

“Manakah jalannya kanda?” Kata Pamadi. Sebenarnyalah, disamping kata kata Semar yang dari awal mengingatkan agar jangan sampai menyakiti hati wanita, kali ini Pamadi telah terpikat oleh kemanjaan Banuwati.
“Kamu tidak usah mencari kanda Erawati. Kamu beristirahat dahulu. Sedikitnya enam bulan saja, ya!”.Kembali Banuwati menandaskan.

Baiklah Banuwati”

Maka demikianlah, Pamadi telah dalam tertancap panah asmara yang telah dilepas putri Mandaraka itu. Banowati yang begitu  mempesona, telah menyeret Pamadi yang telah rebah itu, ke dunia muda yang belum pernah ia tapaki.

Bujuk rayu Banuwati telah menyebabkan semua yang ada di dalam benaknya sedikit demi sedikit baur yang akhirnya kabur. Pamadi tak bisa lagi membedakan apa yang benar menurut nalar dan jiwa kesatrianya. Kesediaannya untuk pergi mencari Herawati telah luluh terkena oleh gerojok bujuk manis yang begitu menghanyutkan jiwanya.

Maka keduanya telah bergandengan tangan menuju keputren dengan mesranya, layaknya dua orang kekasih yang sudah lama tidak bertemu. Rasa sungkan Pamade telah hilang. Panah asmara yang sebenarnya telah menancap pada jantung keduanya, telah menjadikan mereka dua orang asmarawan sejati. Saling colek dan saling kerling. Singkatnya benteng asmara Pamadi telah runtuh luluh oleh senyum mesra Banuwati. Begitupun dengan Banuwati, telah lantak rasa kepatutan sebagai wanita lajang. Pesona Pamadi telah menyeretnya jauh dari tatanan susila.

Demikianlah, semakin dalam rasa cinta keduanya telah memabawa mereka ke wilayah yang belum seharusnya mereka masuki. Makin jauh, semakin lupa mereka, bahwa keduanya belum boleh melakukan hal yang tabu. Semalaman mereka bermesraan seperti yang dilakukan oleh penganten baru. Malam dingin keputren Banuwati telah hangat, bahkan panas oleh kobar api asmara keduanya.

Maka ketika ayam jantan telah berkokok untuk terakhir kali dipagi itu, dan ayam betina telah ribut menggugah anak-anaknya dari bawah ketiaknya, Pamadi bangun gelagapan dari tidurnya yang hanya sekejap. Dari tirai tipis jendela kamar terlihat matahari telah mengintip dari balik cakrawala. Ia telah bangun kesiangan.

Banuwati yang terbaring disampingnya terlihat pulas. Dipandangi sejenak sosok indah berkulit kuning gading, yang masih diam berselimut sutera sekenanya. Namun kini kesadaran Pamadi mulai tumbuh. Tak hendak mengusik tidur wanita cantik yang pulas dengan bibir tetap tersenyum, Pamadi bangkit pelahan. Dipandanginya sosok Banuwati. Dalam hatinya ia berjanji hendak menemuinya lagi nanti setelah usai tugas dilaksanakan. Kenangan manis malam tadi, tak urung telah membekas dalam-dalam direlung hati Pamadi.

Masih tanpa membenahi dirinya, segera dicarinya para panakawan yang sudah bangun sedari tadi sambil menghadapi minuman hangat dan beberapa potong makanan ringan.

Melihat datangnya bendaranya yang dalam keadaan tidak tertata, Petruk menyambut dengan kata-kata,”nDara, mbok rambutnya disisir dulu, masak rambutnya awut-awutan gitu Kang Gareng, mbok kerisnya itu dibetulkan.”

Gareng yang enak enakan minum, tidak mau disuruh dan menjawab sekenanya, “Biarkan saja Truk, orang dianya mau seperti itu.”

“Aeh  aeh . . . .  Ini gimana ndara sebaiknya. Andika yang sudah janji dengan sinuwun Prabu Salya jangan sampai mengingkari. Mari kita semua berangkat”. Semar mengingatkan.

Mereka yang belum puas wedangan dipagi itu segera bebenah. Sisa sedikit kue yang belum dimakan segera dikantongi oleh ketiga anak Semar, kemudian cepat cepat diteguknya minuman hangat yang masih tesisa. Tetapi ketika hendak keluar dari petamanan, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan datangnya Surtikanti. Pamadi kagok kepergok oleh Surtikanti yang kemudian berkata dengan muka ditekuk.

“Permadi, keterluan kamu. Kamu benar-benar telah membuat sakit hatiku. Banyak hal yang telah kamu katakan sebagai dalih untuk menampik kemauanku agar kamu mau mampir di keputrenku. Kamu bilang bahwa kamu sedang menjalankan tugas. Tapi mengapa, ketika Banuwati mengajakmu mampir, kamu hanya menurut”. 

“Aku mohon maaf, kanda Surtikanti”, Sela Pamadi. Tapi Surtikanti yang telah tertumbuhi dendam, tidak peduli dan melanjutkan kata katanya.

Aku tidak terima. Sebab kamu telah membuat sakit hatiku, semoga jagad menjadi saksi akan sumpahku terhadapmu. Pertama, semoga usahamu menemukan kanda Herawati akan gagal. Kedua seandainya nanti kamu kelaparan kamu tak akan mendapat makanan. Sedang kalau kamu kehausan, tak akan kamu temukan air”. 

Setelah mengucapkan kalimat itu Surtikanti berlalu dari hadapan Pamadi yang hanya berdiri diam menunduk. Sementara panakawan terbengong-bengong mendengar sumpah-serapah Surtikanti. Setelah peristiwa cepat itu berlalu, terdengar Semar memecah kesunyian.

“A-a-a-aaaah , itu adalah buah dari perbuatan andika yang tidak adil. Yang satu disakiti hatinya, sementara yang lain diperlakukan dengan manis. Ini sudah terlanjur”. Semar akhirnya berserah diri setelah semuanya diam.
“Oooooh gimana ini Gong, apa yang akan terjadi nanti setelah kita disumpahi semacam itu?” Petruk meratap-ratap

“Lha gimana lagi” Bagong juga ikut ikutan meratap

“Kakang Semar sudah lumrah apa yang terjadi. Semua orang yang tersakiti pasti ia akan kecewa. Kalau dilayanipun kata kata kanda Surtikanti, itu bakal menjadi hambatan perjalanan. Ayolah segera kita menjalankan tugas yang telah kita sanggupi”.

Itulah kata Pamadi menentramkan hatinya sendiri. Mereka segera melanjutkan perjalanan tanpa peduli lagi dengan kata-kata Surtikanti. Namun dalam hati yang paling dalam, kata kata serapah Surtikanti telah membekas dalam pikirannya. Serapah itu telah bergayut berat membebani langkahnya.

————————————————————————————————

Sementara itu di perkemahan para Kurawa, Raja muda Astina, Prabu Jakapitana atau Jayapitana, telah menemui Patih Sangkuni yang telah kembali dari Mandaraka. Seperti diketahui bahwa Patih Sangkuni telah melaporkan apa yang terjadi ketika mereka, para Kurawa, telah mendapatkan titik terang, akan keberadaan dewi Erawati. Ketika itu, Sangkuni juga telah mendapat restu dari Prabu Salya.

Dan sekarang para Kurawa yang telah selesai membangun pesanggrahan dengan megah. Walau perkemahan di tepi Bengawan  Silugangga itu hanya bersifat sementara, tetapi kemegahan itu seakan hendak menyamai keadaan di kotaraja Astina. Banyaknya wadyabala yang melingkupi bangunan itu nampak menyebar sehingga dari ujung yang satu tidak dapat melihat ujung yang lain.

“Paman, sudah tidak sabar lagi saya mendengar kabar dari si Paman”. Kata Jakapitana, “Apakah sampeyan sudah bisa menceritakan bagaimana hasil dari si Paman yang aku utus datang ke Mandaraka? Apakah si Paman sudah menceritakan bahwa aku sudah mendapat titik terang akan hilangnya Dewi Herawati. Sebab aku sudah melihat sosok yang ditengarai sebagai mahluk yang mencuri putri Mandaraka. Dan kecurigaan itu diperkuat dengan terdengarnya rintihan seorang wanita”. Jakapitana segera menanyakan apa yang telah dijalani di Mandaraka.

“Sedemikian gembira Prabu Salya, sebab sudah ada gelagat bakal ditemukan yang telah hilang yaitu dewi Herawati”. Demikian Sangkuni mulai menceriterakan perjalanannya ke Mandarka, “Dari awal hingga akhir tak ada yang terlewat, semua sudah hamba ceritakan kepada prabu Salya”.

Dursasana yang tidak mau diam ikut-ikutan  meminta keterangan dan memberikan pertanyaan kepada pamannya“Paman, kami tidak merecoki apa kata paman. Tapi sudahkah si Paman sekalian minta penjelasan, apakah benar-benar akan dijodohkan kakang Prabu Jakapitana dengan Dewi Herawati bila putrinya dapat diketemukan? Sebab yang namanya orang Man, bisa saja berubah kata-katanya sewaktu waktu. Sudah menetapkan apa belum Man, perjanjian yang telah dikatakan Man?”

Dursasana, jangan gegabah. Semua yang aku perbuat sudah aku pikirkan. Semua yang ada dalam perjanjian sudah aku tanyakan”.jelas Sengkuni.

“Sukurlah. Sebab aku kawatir, paman itu sudah tua yang terkadang lupa dengan apa yang harus dikatakan. Jangan sampai yang kita perbuat disini akan menjadi sia-sia. Sukurlah kalau demikian Paman!” sambil terus badannya bergerak-gerak, Dursasana sementara puas dengan jawaban pamannya

Kartamarma juga minta keterangan, “Di Mandaraka sana si Paman diberi perintah apa saja”.

“Begini, bila nanti kita sudah bisa mengembalikan Dewi Erawati ke Mandaraka, maka tidaklah seketika itu juga bakal dilakukan upacara perkawinan, tapi mestinya nunggu dulu hari baik. Semua perbuatan yang terburu buru itu tidak akan baik jadinya”. Jawab Sangkuni.

Sekarang Dursasana yang selalu usil, bertanya lagi, “Upama ya Man, kalau saya yang bisa menemukan, itu bagaimana aturannya?

“Kamu harus mengalah kepada kakakmu! Anggaplah kamu mengawinkan kakakmu. Jangan dimakan sendiri”. Dengan sabar Sangkuni menjelaskan.

“Baiklah. Saya menurut saja apa kata si Paman. Semua yang aku perbuat segalanya hanya aku persembahkan untuk saudara tua” Dursasana menjawah puas. Tapi kemudian ia mengalihkan pembicaraan,.” Tapi saya heran Man, manusia lumrah itu tidak mungkin berhuni didalam bengawan. Kalau menyelam sebentar saja bagi manusia itu bakal megap-megap. Tapi itu yang saya lihat, manusia pencuri itu bisa berjalan seperti layaknya jalan diatas tanah. Ketika diterangi dengan obor, makhluk itu sirna seperti ditelan bumi. Itu hal yang saya kira sangat sulit bagi kita untuk mencari pencuri seperti itu”.

“Begini ya Dur, kamu dan saudaramu para Kurawa segeralah tata baris. Lakukan pengepungan dari sini sampai ke pinggir samudra. Supaya jangan sampai pencuri itu dapat meloloskan diri.” Sangkuni mengunci pembicaraan.

Demikianlah setelah pembicaraan yang bertele-tele usai, para Kurawa segera dikerahkan melakukan penyelaman kedasar bengawan. Segala peralatan atas air dan selam dipergunakan oleh ratusan prajurit yang menceburkan diri ke kedalaman bengawan. Seketika banyak hewan air berlompatan menghindar dari kepungan prajurit. Mereka menduga bahwa akan menjadi sasaran buruan orang orang yang menyelam kedalam bengawan
Benarlah perkiraan Para Kurawa. Ternyata didalam bengawan terdapat sebuah negara bawah air yang bernama Tirtakadasar.